Selamat Datang di website Balai Penyuluhan Pertanian Kapanewon Nanggulan Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta.....................

Rabu, 08 September 2010

Panen jagung hibrida

BPP Nanggulan memfasilitasi kerjasama antara kelompok tani di kecamatan naggulan dengan mitra PT. Dupont dalam hal budidadaya tanaman pangan. Tampak dalam gambar kelompok tani Ngudi Rukun, Kauman , Jatisarono sedang melakukan panen jagung hibrida varietas Pioneer P4, P11, dan P27. Dari hasil ubinan sementara diperoleh angka produktivitas varietas P4 sebesar 6,489 ton/Ha, P11 sebesar 8,600 ton/Ha, dan P27 sebesar 9,598 ton/Ha jagung pipil kering. Dalam acara tersebut menghadirkan gapoktan Tanjunglestari, kelompok tani Ngudi Rahayu Wareng, serta kelompok tani Marsudi Makmur Jambon. Beberapa hari sebelumnya pihak BPP juga telah melakukan ubinan lokasi demplot jagung Pioneer P 21 di kelompok tani Srijati Bejaten, Jatisarono. Hasil yang diperoleh 5,800 ton/Ha jagung pipil kering.

Jumat, 03 September 2010

Kegiatan FMA / FEATI

Rekapitulasi kegiatan FMA / FEATI kecamatan Nanggulan tahun 2010

Pelatihan Pengolahan Hasil Budidaya Ayam Buras
Pelatihan Pembuatan Pakan Ternak dan Penggemukan Sapi (UMB)
 
Pelatihan Pengolahan Limbah Ternak / Pembuatan Pupuk Organik
 
Pelatihan Pembuatan Pakan Ternak (fermentasi jerami)




Teknologi Tepat Guna - Alat pencacah tangkai daun talas



Adalah Mukti Rohadi Setiawan, A. Md, salah seorang anggota pokdakan Mino Raharjo yang beralamat di Karang, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo, sang penemu teknologi tepat guna berupa alat pencacah tangkai daun talas. Dasar ide kreatif ini bermula dari keprihatinan pria kelahiran 3 Desember 1975 ini dalam hal pemenuhan kebutuhan pakan hijauan ikan gurami yang banyak dipelihara oleh anggota pokdakan Mino Raharjo. Alat ini terbukti sangat efektif untuk mencacah tangkai daun talas sehingga siap untuk diberikan kepada ikan.

Selasa, 24 Agustus 2010

Pemberian Tanaman Obat Sebagai Jamu Hewan (Unggas)

Obat tradisional adalah obat yang terbuat dari bahan alami terutama tumbuhan dan merupakan warisan budaya bangsa yang telah digunakan secara turun temurun. Secara empirik ramuan tanaman obat (jamu) selain untuk dikonsumsi dapat digunakan untuk kesehatan ternak. Berdasarkan laporan dari beberapa peternak unggas penggunaan secara rutin obat tradisional (kunyit, bawang putih, daun pepaya) pada ayam dan puyuh yang diberikan melalui air minum atau dicampur dalam pakan, menunjukkan ternak tersebut terhindar dari serangan penyakit Avian Influenza (AI).
Secara umum di dalam tanaman obat (rimpang, daun, batang, akar, bunga, buah) terdapat senyawa aktif seperti alkaloid, fenotik, tripenoid, minyak atsiri glikosida, dsb yang bersifat antiviral, antibakteri, serta imunomodulator.
Beberapa jenis tanaman obat yang telah diujicobakan pada ternak unggas lokal (ayam dan itik), diantaranya mengkudu (Morinda citrifolia), sambiloto (Androgaphis paniculata), jahe (Zingiber officinale), k,unyit (Curcuma domestica), lengkuas (Langua galanga L), temulawak (Curcuma xanthorrhiza R), daun sirih (Piper betle R), daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boer), kencur (Kaempferia galanga L), bawang putih (Alium sativum L), dan lainnya. Beberapa jenis tanaman obat kebanyakan diberikan dalam satu ramuan bentuk serbuk maupun larutan jamu. Respon pemberian tanaman obat dalam sediaan air minum pada ternak ayam lokal fase pertumbuhan disajikan sbb :
Dari tabel di atas, pertambahan bobot ayam lokal yang diberi buah mengkudu (875,77 g/ekor) ternyata lebih tinggi dibandingkan kontrol (675,69 g/ekor). Bila dihitung dari konversi pakan, pemberian mengkudu dan sambiloto lebih efisien dari pada kontrol. Perlu diinformasikan bahwa ayam yang diberi perlakuan buah mengkudu kondisi bulu primer lebih mengkilap dari yang lainnya.
Para peternak unggas lokal umumnya selalu memberikan tambahan ramuan tanaman obat seperti kunyit, temu lawak, temu ireng, daun pepaya, daun mengkudu ke dalam rangsum atau dicampur dengan air minum untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit pencernaan, dan cacing.
Dosis tanaman obat yang diberikan pada ayam lokal seperti kunyit, temulawak, jahe, kencur, dan sejenisnya dalam bentuk serbuk sebanyak 0,5 - 1 % dalam rangsum, tepung daun seperti tepung daun mengkudu, daun singkong, daun pepaya maksimum 5 % dalam rangsum, sedangkan untuk larutan jamu hewan maksimal 5 ml/liter air minum.
Proses pembuatan jamu hewan fermentasi :

Beberapa jenis tanaman obat yang digunakan sebagai jamu hewan :

Referensi :
  • Andang, S. I, dan S. Widodo (2005). Panduan vaksinasi Avian Influenza. Poultry Indonesia Jakarta
  • Bakrie, E. , D. Andayani. M, Yanis dan D. Zainuddin. 2003. Pengaruh penambahan jamu ke dalam air minum terhadap preferensi konsumen dan mutu karkas ayam buras. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, September 2003. Puslitbang Peternakan Bogor. pp 490-495
  • Dan sebagainya ....
Download artikel lengkap ....

Kamis, 19 Agustus 2010

Piranti Lunak Pemupukan Padi Sawah Spesifik Lokasi PuPS versi 1.1

PuPS merupakan piranti lunak untuk menentukan rekomendasi takaran pupuk padi sawah di setiap lokasi. Program ini dikembangkan oleh tim peneliti IRRI bersama Tim Teknis Kelompok Kerja Pemupukan Tanaman Pangan Badan Litbang Pertanian. Penggunaan PuPS ini sangat membantu Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bersama petani dalam menetapkan takaran dan waktu pemupukan padi di lahan sawah pada musim tanam yang akan dihadapi sesuai dengan hara dan pertumbuhan tanaman. 

SL-PTT Padi ( Ringkasan Materi )


  • Persiapan Lahan : pengolahan tanah secara sempurna 
    1. Sebarkan bahan organik dan benamkan gulma : efisiensi penggunaan pupuk organik sekitar 30 %
    2. Bajak menggunakan traktor, ternak, atau cangkul
    3. Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan melumpur
    4. Ratakan lahan
    5. Gali saluran di pinggir untuk drainase 
  • Seleksi benih :
    1. Buat larutan garam dengan perbandingan air : 5 liter + garam : 600 gram
    2. Uji larutan dengan telur fertil sampai melayang / terapung
    3. Masukkan benih ke dalam larutan, kemudian diaduk
    4. Benih yang melayang / terapung dibuang
    5. Benih yang bernas (tenggelam) dicuci, kemudian masukkan ke dalam karung
    6. Rendam benih selam sehari semalam
    7. Tiriskan benih dalam tempat lembab
    8. Benih siap disemaikan
  • Persemaian :
    1. Buat bedengan persemaian dengan lebar 1 - 1,5 m panjang disesuaikan dengan lahan
    2. Untuk luas tanam 1000 m2 diperlukan luas persemaian 40-50 m2, benih 2-2,5 kg
    3. Campurkan setiap meter persegi bedengan dengan 2 kg bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, pupuk daun, dan abu untuk memudahkan pencabutan bibit
    4. Sebarkan bibit padi merata ke semua bedengan
    5. Lokasi persemaian dengan dengan sumber air dan memiliki drainase yang baik
    6. Lindungi bibit dari serangan hama
  • Tanam :
    1. Tanam bibit umur muda : < 17 hari
    2. Jumlah bibit 1-3 batang/lubang, kedalaman 1-2 cm, dengan sistem jajar legowo 2, 4, atau 6
    3. Gunakan jarak tanam minimal 20 x 20 cm
  • Pemupukan (rekomendasi umum) : dosis pupuk tiap luas 1000 m2
    • Pupuk Dasar : sebelum / saat tanam
      1. Pupuk organik   : 100 - 200 kg
      2. Pupuk Phonska : 15 kg
    • Susulan I : 20 hari setelah tanam
      1. Pupuk Phonska : 15 kg
      2. Pupuk Urea      :  5 kg
    • Susulan II : 35 hari setelah tanam
      1. Pupuk Urea      : 5 kg
      • Pengairan :
        1. Lakukan pergiliran air berselang 4 hari basah 3 hari kering dari fase tanam sampai fase anakan maksimal (50 hari setelah tanam)
        2. Mulai fase pembentukan malai sampai pengisian biji, petakan sawah digenangi terus (50-85 hari setelah tanam)
        3. 10 - 15 hari sebelum panen, sawah dikeringkan
      • Penyiangan :
        1. Gulma dikendalikan mulai dengan pengolahan tanah,  mengatur air dipetakan sawah, menggunakan pupuk kompos
        2. Pengendalian dengan cara mekanis seperti gosrok dan tangan sangat dianjurkan
        3. Menggunakan herbisida apabila intensitas gulma sudah tinggi
      • Pengendalian Hama Penyakit : PHT
        1. Pengamatan / monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman secara rutin
        2. Pengendalian hama dan penyakit memperhitungkan faktor ekologi
      • Penanganan Panen dan Pasca Panen :
        1. Panen tepat waktu, jangan terlalu muda tapi juga jangan terlalu tua
        2. Potong padi dengan sabit bergerigi
        3. Perontokan dengan threser dialasi terpal
        4. Gabah dibersihkan, lalu jemur dengan alas terpal sampai kering
        5. Kemas gabah dengan karung, simpan di dalam gudang yang bebas hama serta sirkulasi udara yang baik.
      Dari berbagai sumber