Selamat Datang di website Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan Kec.Nanggulan Kab.Kulon Progo, D.I. Yogyakarta.....................

Kamis, 21 Juli 2016

Buah Mengeras

Buah Mengeras
Gejala penyakit
Sebagian atau seluruh bagian buah mengeras. Jika dibuka, daging buah lengket dengan kulit dan sebagian daging buah sudah busuk.  Biasanya, buah akan jatuh sebelum matang.
Patogen
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan: Rhizopus sp., Botryodiplodia sp., dan Pestalotia flogisetulla (Mohamad Reza, 2000).
a.  Rhizopus sp.
  • Cendawan ini hidup sebagai saprofit atau patogen luka, sehingga invasi terjadi melalui luka-luka. Di tempat penyimpanan buah setelah panen, cendawan dengan cepat membusukkan buah dan segera menularkan ke buah lain. Luka karena serangga yang terjadi setelah pemetikan dapat meningkatkan pembusukan (Dwi Astuti, 1985). Lalat buah Drosophila sp. diduga membantu pemencaran cendawan ini (Setyobudi dan Dwi Astuti, 1985).
b.  Botryodiplodia sp.
  • Cendawan membentuk piknidium. Konidiumnya berbentuk jorong, bersel 1(satu), dan hialin pada waktu muda; tetapi kemudian setelah dewasa konidium itu bersel 2 dan berwarna gelap.
  • Penyinaran matahari secara penuh dan mendadak pada pangkal cabang atau batang, akibat  pemangkasan yang terlalu berat, dapat mendorong perkembangan penyakit. Pemetikan buah pada keadaan cuaca lembap dan adanya pelukaan dapat mendorong terjadinya infeksi pada buah yang dipanen.
c.  Pestalotia sp.
  • Pestalotia sp. memiliki konidium berbentuk kumparan, tiga sel tengah yang berdinding tebal dan berwarna kecoklatan, dan sel ujung berwarna hialin dengan tiga ekor (seta).
Tanaman inang lain
  • Rhizopus sp.: juga menyerang pepaya.
  • Botryodiplodia sp.: juga menyerang nenas, nangka, teh, jeruk, kopi, akar tuba, kelapa sawit, lengkeng, karet, ubi jalar, leci, kweni, ubi kayu, pisang, rambutan, alpokat, jambu biji, kakao kemiri, dan jagung.
Pengendalian
Cara kultur teknis
  • Sanitasi kebun, dengan membersihkan rerumputan/ gulma, daun dan ranting di areal pertanaman manggis yang dapat menjadi sumber inokulum.
Cara mekanis
  • Pengambilan buah manggis terserang/sakit lalu membakarnya atau dibenam dalam tanah.
Cara kimiawi
  • Penyemprotan dengan fungisida yang efektif dan  terdaftar sejak buah masih pentil sampai tiga minggu sebelum panen.

Busuk Buah

Busuk Buah
 
A = Gejala Busuk Buah dengan Burik pada Ujung Buah
B = Gejala Busuk Buah dengan Burik Sisi Buah
(Sumber: Juaidi, 2003)
Gejala Penyakit Busuk Buah
Gejala penyakit

Gejala di lapangan dimulai dengan adanya kerak atau burik pada buah muda, burik berwarna coklat, pecah-pecah dan sedikit mengeluarkan getah berwarna kuning. Burik biasanya mulai dari ujung buah, kemudian menjalar ke arah sepal atau sebaliknya. Burik dapat juga pada sisi buah (Gambar di samping atas).
Kulit buah berwarna kehitam-hitaman dan mengkilap; selanjutnya warna berubah menjadi hitam suram. Perubahan warna kulit diawali di bagian dekat tangkai buah (pangkal buah), kemudian dengan cepat meluas ke seluruh bagian buah. Penampakan buah tidak menarik (burik) dan buah menjadi keras. Setelah dibuka daging buah berair, busuk dan lekat dengan kulit buah (Gambar di samping bawah). Penyakit ini juga terjadi pada buah di penyimpanan.
Patogen
Penyebab penyakit busuk buah ini adalah cendawan Botryodiplodia theobromae Penz.  (Diplodia mangostanae Henn et Nyman), cendawan Colletotrichum gloeosporioides Pat atau Glomerella cingulata (Stonem).
Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada buah di kebun maupun penyimpanan.
Pengendalian
Cara kultur teknis
  • Pengambilan buah yang sakit, kemudian dimusnahkan (membakarnya);
  • Penanganan panen dan pascapanen yang baik agar buah tidak memar karena buah yang memar sangat peka terhadap serangan patogen ini.

Busuk Akar

Busuk Akar
A= Gejala Serangan Fomes noxius pada Pangkal Batang dan
B= Gejala Serangan Fomes noxius padaDaun
Sumber: CABI
(A)                                (B)
Gejala penyakit
Akar tanaman yang sakit berwarna coklat atau kemerah-merahan dan membusuk (Gambar 14), sehingga tidak dapat menyerap air dan zat hara secara sempurna. Akibatnya pertumbuhan tanaman merana dan produksi buah sangat rendah. Pada bibit, penyakit dapat menyebabkan kematian. Demikian juga pada tanaman dewasa apabila tidak ada upaya pengendalian.
Patogen
Penyebab penyakit busuk akar ini ada dua macam:
Penyakit busuk akar coklat, disebabkan oleh cendawan Fomes noxius Corner
Penyakit busuk akar merah, disebabkan oleh cendawan  Ganoderma pseudoferreum (Wakef V. Overeem et Steinm).
Fomes noxius membentuk basidioma/ basidiokarp* yang permukaan atasnya berwarna coklat kemerahan pada pangkal batang terserang (Gambar 14A). Cendawan menular dengan 2 cara, yaitu: 1) dengan spora yang diterbangkan oleh angin dan menginfeksi melalui luka pada pangkal batang dan 2) kontak antara akar sakit dengan akar sehat dari tanaman lainnya.
Ganoderma pseudoferreum sebenarnya merupakan patogen sekunder yang memerlukan luka untuk menginfeksi tanaman sehat. Pertumbuhan cendawan ini lambat, sehingga gejala serangan seringkali muncul pada tanaman dewasa. Infeksi biasanya terjadi pada akar lateral dan berkembang ke arah leher/pangkal batang, kemudian ke akar lateral lainnya  melalui rizomorf* yang berwarna merah dengan ujung putih. Basidiokarp bervariasi, tetapi kebanyakan datar dan tipis, diameter 150—160 mm dan tebal pada dasarnya >40 mm, permukaan atasnya berwarna coklat dengan alur-alur atau tonjolan-tonjolan konsentris. Penularan melalui basidiospora yang terbawa angin mungkin terjadi, tetapi hal ini kurang meyakinkan.
Tanaman inang lain
Durian, karet, kakao, kelapa sawit, dan teh.
Pengamatan
Pengamatan bagian tanaman di atas tanah dengan memperhatikan perubahan pertumbuhan tanaman/warna daun, dilanjutkan pemeriksaan sistem perakaran.
Pengendalian
Cara kultur teknis
  • Pengaturan jarak tanam yang baik untuk mencegah kelembapan kebun.
  • Perbaikan drainase pada areal pertanaman
  • Penggunaan mulsa untuk meningkatkan suhu tanah.
Cara biologi
  • Penggunaan  agens hayati Trichoderma spp.
Cara kimiawi
  • Aplikasi desinfektan pada tanah persemaian dan kebun (lubang tanam) pertanaman manggis;
  • Penggunaan fungisida yang efektif, misalnya Cobox  dan Cupravit.

Bercak Daun

Penyakit Bercak Daun Pestalotia

A= Gejala Penyakit Bercak Daun Pestalotia pada Tunas dan
B= Daun Muda

Gambar 9. Gejala Penyakit Bercak Daun Pestalotia pada Daun Manggis Tua
Sumber: Juaidi dan Hadisurisno, 2003
Gejala penyakit
  • Gejala penyakit yang umum adalah adanya bercak tidak beraturan pada daun. Warna bercak berbeda-beda tergantung dari jenis patogennya.
  • Gejala serangan Helminthosporium sp. berupa bercak berwarna coklat pada daun, Gloeosporium garciniae menimbulkan bercak berwarna hitam pada sisi atas daun, sedangkan Pestalotia (Pestalotiopsis)  sp. adalah bercak dengan warna kelabu pada bagian tengahnya.
  • Berdasarkan pengamatannya di Purworejo, Kulon Progo dan Belitung; Juaidi dan Hadisutrisno (2003) melaporkan bahwa gejala penyakit bercak daun Pestalotia bervariasi, tergantung umur/bagian tanaman yang terinfeksi:
    • Tunas: bercak dimulai dengan mengeringnya bagian ujung, menjalar pada pinggiran daun, berkembang hingga daun menjadi kering dan menggulung, dan bila daun diremas terasa rapuh sekali. Infeksi pada bagian ini sangat merugikan sekali karena tunas tersebut tidak dapat menghasilkan buah.
    • Daun muda: gejala penyakit berupa bercak tidak beraturan, berwarna coklat, dikelilingi oleh halo berwarna kuning, mulai dari ujung daun atau pada bagian tulang daun tengah, dan bercak itu dengan cepat meluas sehingga daun menjadi kering dan rapuh (Gambar di disamping).
    • Daun tua: gejala penyakit berupa bercak tidak beraturan, mulai dari tepi daun dan meluas ke arah tulang daun, berwarna coklat tua dengan tepi coklat kehitaman, dan halo berwarna kuning. Gejala lanjut dapat mengeringkan seluruh daun dan daun menjadi rapuh (Gambar di samping bawah)
Patogen
  • Di beberapa negara species patogen tersebut beragam. Di Burma dan Brazilia penyakit bercak daun disebabkan oleh Pestalotia (Pestalotiopsis) espaillatti Cif. et. Frag., di Thailand oleh P. flagisetula Guba, dan di Sri Lanka disebabkan oleh Helminthosporium garciniae Petch. Di Indonesia penyakit tersebut disebabkan oleh Pestalotia sp. (Juaidi dan Hadisurisno, 2003) atau disebabkan oleh Gloeosporium garciniae Koord. (Rahmat Rukmana, 1995).
  • Gloeosporium garciniae memiliki aservulus yang banyak terdapat pada sisi atas daun, berwarna hitam. Konidiofor berbentuk tabung dan hialin. Konidium bersel 1, hialin, berbentuk tabung dan agak bengkok. Patogen dapat menginfeksi daun muda maupun daun dewasa.
  • Pestalotia sp. memiliki konidium berbentuk kumparan, tiga sel tengah yang berdinding tebal dan berwarna kecoklatan, dan sel ujung berwarna hialin dengan tiga ekor (seta).
Tanaman inang lain
  • Tanaman mundu
  • Pengamatan
  • Pengamatan dilakukan pada daun muda maupun daun tua, sepanjang tahun.
  • Pengendalian
Cara kultur teknis
  • Pengurangan tingkat kelembapan kebun dengan mengurangi/memangkas tanaman pelindung dan bagian tanaman manggis yang sudah mati;
  • Sanitasi kebun, dengan membersihkan rerumputan/ gulma, daun dan ranting di areal pertanaman manggis yang dapat menjadi tempat sumber inokulum.
Cara mekanis
  • Pemangkasan daun sakit kemudian membakarnya.
Cara kimiawi
  • Penyemprotan dengan fungisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.

Kanker Batang

Kanker Batang atau Cabang
A = Gejala Penyakit Kanker pada Batang (A) dan
B = pada Cabang Manggis
C = Bunga dari Tanaman yang Terserang Kanker Batang/ Cabang
Gejala penyakit
Tanaman manggis yang sakit mengalami perubahan warna kulit batang atau cabang. Di samping itu, cabang atau batang yang terserang mengeluarkan getah. Getah kemudian menggumpal dan mendominasi di bawah kulit batang, kulit batang menjadi kering hingga menjalar ke jaringan xilem dan daun menjadi pucat dan lemas. Tanaman yang sakit biasanya akan cepat berbunga, tetapi bunga tidak normal dan akan menghasilkan buah yang tidak normal pula (Gambar disamping).
Patogen
Penyebab penyakit kanker batang atau cabang adalah cendawan Botryosphaeria ribis (Dothiorella ribis). Cendawan ini memiliki askus berbentuk gada, berukuran 70—90 x 17—22 um, berisi 8 askospora hialin (berukuran 18—24 x 6—9 um) berinti banyak.
Cendawan sering hidup sebagai sapropit pada daun dan kayu mati, pada sisa-sisa tanaman, dan sebagai parasit pada beberapa tanaman.
Tanaman inang lain
Apel, jeruk
Pengamatan
Pengamatan batang dan cabang, terutama pada musim hujan.
Pengendalian
Cara kulturteknis
- Membersihkan batang dan cabang yang sakit;
- Pemangkasan cabang atau ranting tanaman manggis untuk mengurangi kelembapan.
Cara kimiawi
- Penggunaan fungisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.

Kutu Putih

Kutu Putih (Pseudococcus spp.)(Homoptera: Pseudococcidae)
A = Psedococcus sp
B = Gejala Serangannya pada Buah Manggis
Gejala serangan
Kutu putih ini merusak penampilan buah manggis. Kutu muda hidup dan menghisap cairan kelopak bunga, tunas, atau buah muda. Kutu dewasa mengeluarkan semacam tepung putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya (Gambar seperti di samping)).
Pada fase dewasa, kutu putih mengeluarkan sejenis cairan gula yang biasanya cairan gula tersebut akan didatangi oleh semut hitam. Pengaruh kutu putih, jelaga hitam dan semut ini membuat penampilan buah jelek; walaupun sebenarnya rasa buah tidak terlalu dipengaruhi.
Pengamatan
Dilakukan pada tunas, kelopak bunga, dan buah mulai pembentukan tunas baru, pembungaan, dan pembentukan buah dengan melakukan pengamatan keberadaan kutu dan intensitas serangannya.
Pengendalian
  • Cara kultur teknis
    • Mengurangi kepadatan tajuk agar tidak terlalu rapat dan saling menutupi;
    • Mengurangi kepadatan buah.
  • Cara kimiawi
    • Mencegah semut dengan memberi kapur anti semut;
    • Menyemprot dengan insektisida dan fungisida yang efektif dan terdaftar (bila ada jelaga hitam).

Ulat Daun

Ulat Daun Marumba dyras
Gejala Serangan
Hama ini menyerang daun durian, baik daun muda maupun daun tua.  Tanaman yang terserang biasanya akan gundul dan tinggal hanya tangkai daunnya saja (Gambar 4A).  Hama ini bersifat eksplosif dan sangat rakus.
Morfologi/Bioekologi
Telur diletakkan pada bagian atas dan bawah daun, tangkai daun.  Telur diletakkan secara berkelompok yang ditutupi oleh benang-benang berwarna putih.  Telur menetas selama 5-7 hari.  Larva panjangnya 3-5 cm, berwarna hijau kehitaman.  Lama hidup pupa 18-200 hari apabila keadaan tidak menguntungkan untuk perubahan bentuk menjadi imago.  Pupa berwarna coklat tua sampai hitam dan berada di bawah permukaan tanah di sekitar pertanaman.  Ngengat berwarna coklat keabu-abuan (Gambar 4B).  Pada siang hari ngengat bersembunyi di sela-sela daun dan aktif pada malam hari.  Ngengat sangat responsif pada cahaya.
Gambar  Marumba dyras
Tanaman Inang Lain
Srikaya, sirsak
Pengendalian
Cara kultur teknis
-    Memusnahkan sisa-sisa tanaman yang ter-serang
-    Memusnahkan tanaman inang lainnya
Cara mekanis
-  Memotong bagian tanaman yang terserang
berat dan dimusnahkan