Selamat Datang di website Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan Kec.Nanggulan Kab.Kulon Progo, D.I. Yogyakarta.....................

Senin, 21 November 2016

PENDAMPINGAN KELOMPOK TANI SEBAGAI PENANGKAR BENIH PADI


Dalam rangka meningkatkan kualitas usaha para petani, antara lain ditempuh dengan cara merubah pola usaha tani, yang mana nantinya produknya dijual sebagai benih, sehingga diharapkan kelompok tersebut dirintis sebagai kelompok penangkar / produsen benih.  Adapun kelompok tani yang ditunjuk sebagai pelaksana penangkaran benih padi tersebut antara lain, Poktan Sido Maju, Keso; Poktan Amrih Makmur, Gendol; Poktan Subur, Sambiroto dan Poktan Danurejo, Brangkal Desa Banyuroto, Nanggulan, Kulon Progo. Kegiatan penangkaran benih ini dapat terlaksana, berkat jalinan kerjasama antara, Kelompok tani, BP3K Nanggulan, Perusahaan Benih Sarimulyo dan BPTP Yogyakarta. Adapun benih label putih yang ditanam petani berasal dari BPTP DIY, dengan jumlah bantuan sebanyak 1 ton terdiri dari tiga varietas, antara lain varietas Inpari 7, Inpari 10 dan Inpari 30, untuk lahan seluas 40 ha. Dengan kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota kelompok tani sekaligus bertujuan membantu ketersediaan benih.

Jumat, 18 November 2016

KUNJUNGAN BKP3 KABUPATEN KUNINGAN


























Pada hari Jum'at, tanggal 18 Nopember 2016 bertempat di Kantor Balai Penyuluhn Pertanian Perikanan Kehutanan ( BP3K ) Nanggulan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakata, menerima kunjungan dari Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat beserta jajarannya. Hadir pada acara tersebut, Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan ( KP4K ) Kabupaten Kulon Progo beserta jajarannya. Dalam sambutannya, Kepala BKP3 Kuningan, mengatakan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya antara lain untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan penyuluhan di Kabupaten Kulon Progo umumnya dan di BP3K Nanggulan khususnya. Sementara Kepala KP4K Kulon Progo Ir Maman Sugiri menjelaskan pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang telah  dan  akan dilakukan pada masa yang akan datang. Sementara itu Koordinator BP3K Hartono menyampaikan kiat-kiat bekerja sukses sebagai Penyuluh Pertanian. Perlu diinformasikan, bahwa pada tahun 2014 yang lalu BP3K Nanggulan meraih juara sebagai BP3K Berprestasi berkat kerja keras tim Penyuluh Pertanian dan didukung oleh semua pihak yag terkait.



Senin, 26 September 2016

TIM MONITORING DAN EVALUASI KEGIATAN DARI IRJENTAN KEMENTRIAN PERTANIAN RI di BP3K NANGGULAN

Pada tanggal 20 September 2016  BP3K Nanggulan berkesempatan di datangi dari tim MONEV IRJENTAN Kemeterian Pertanian RI, tim memonitoring dan mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh BKPP DIY kemudian dilanjutkan ke Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan Kabupaten Kulon Progo serta dilanjutkan Ke BP3K Nanggulan. Dalam kesempatan tersebut dilakukan diskusi tentang pelaksanaan kegiatan dan hambatan yang terjadi dalam pelaksanaannya.

Jumat, 26 Agustus 2016

Jumat, 29 Juli 2016

Antraknosa

Antraknosa : Colletotrichum gloeosporioides
Morfologi dan daur penyakit
  • Konidia dapat membentuk apresoria yang dirangsang oleh keadaan suhu, kelembaban dan nutrisi yang cocok. Pada saat perkecambahan apresoria akan cepat dan mudah menginfeksi inangnya. Penyakit kurang terdapat pada musim kemarau, atau dilahan yang mempunyai drainase baik, dan yang gulmanya terkendali.
  • Penyakit ini tersebar luas di daerah pertanaman bawang di Indonesia.
Gejala serangan
  • Pada  gejala  awal,  daun  memperlihatkan  bercak  putih  berukuran  antara 1 - 2 mm. Bercak putih melebar dan berubah warna menjadi kehijauan. Tanaman mati dengan mendadak, daun bawah rebah karena pangkal daun mengecil. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit otomatis, karena tanaman yang terserang pasti akan mati.  Spora nampak bila infeksi telah lanjut, dengan koloni berwarna merah muda, yang berubah menjadi coklat gelap dan akhirnya kehitam-hitaman.
  • Apabila kelembaban udara tinggi terutama dimusim hujan, miselium akan tumbuh dari helai daun menembus sampai ke umbi menyebar ke permukaan tanah. Miselium yang ada di permukaan tanah berwarna putih dan dapat menyebar ke tanaman lain yang berdekatan. Daun menjadi kering, umbi membusuk.  Infeksi sporadis menyebabkan pertanaman tampak botak di beberapa tempat.
Tanaman inang lain
  • Tanaman sayuran kacang-kacangan, labu-labuan dan terung-­terungan.
Cara pengendalian
  • Pengendalian secara bercocok tanam, dengan mengatur waktu tanam yang tepat, penggunaan benih yang berasal dari tanaman sehat.
  • Pengendalian fisik/mekanik, dengan cara sanitasi dan pembakaran sisa-sisa tanamana sakit, eradikasi selektif terhadap tanaman terserang jika hasil pengamatan serangan ringan < 10 %..
  • Pengendalian kimia, dilakukan jika hasil pengamatan intensitas serangan  > 10 %.  Fungisida yang digunakan yang telah diizinkan oleh Menteri Pertanian.

Embun Buluk

Embun Buluk (Downy mildew) ; Peronospora destructor (Berk) Casp.
Nama umum : Peronospora destructor (Berk.)
Casp. ex Berk.
Klasifikasi : Kingdom : Chromista
Filum : Oomycota
Ordo : Peronosporales
Famili : Peronosporaceae
Sumber gambar : CABI
Morfologi dan daur penyakit
Patogen dapat bertahan pada biji, umbi dan di dalam tanah dari musim ke musim. Pada cuaca lembab dan sejuk, patogen dapat berkembang dengan baik. Penyebaran spora melalui angin. Penyakit ini berkembang terutama pada musim hujan, bila udara sangat lembab dan suhu malam hari rendah.
Kelembaban tinggi sejuk sangat menguntungkan perkembangan patogen. Kesehatan ­benih/umbi yang ditanam, akan mempengaruhi serangan patogen di lapang.
Penyakit banyak dijumpai di Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta (Indonesia), Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Gejala serangan
Di dekat ujung daun terdapat bercak hijau pucat dan bila cuaca lembab pada bercak tersebut terdapat miselium dan spora yang berwarna ungu kecoklatan.  Tanaman muda yang terserang bila tetap hidup akan menjadi kerdil.  Bercak pada daun biasa menyebar ke bagian bawah hingga mencapai umbi, merambat ke lapisan-lapisan umbi yang lain, berwarna kecoklatan, berkerut pada lapisan telur, bagian dalam umbi tampak kering dan pucat.  Serangan berat menyebabkan umbi membusuk, daun menguning, layu dan mengering, diliputi oleh miselium berwarna hitam.

Tungau Kuning

Tungau Kuning : Polyphagotarsonemus latus Banks.
Famili : Tarsonematidae
Ordo   : Acarina
Morfologi/Bioekologi

Imago bertungkai 8 sedangkan nimfa bertungkai 6, berukuran tubuh sekitar 0,25 mm, lunak, transparan dan berwarna hijau kekuningan. Telur berbintik-bintik putih, berwarna kuning muda berdiameter 0,1 mm. Berkembang biak secara berkopulasi biasa dan partenogenesis. Tungau betina mampu meletakkan telur sebanyak 40 butir selama 15 hari. Sejak menetas dari telur hingga dewasa dan siap berkembang biak sekitar 15 hari. Hama ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis sedangkan di Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini adalah Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.
Gejala serangan
Hama menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal dan perubahan warna seperti daun menebal dan berubah warna menjadi tembaga/kecoklatan, terpuntir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur.  Pada awal musim kemarau biasanya serangan bersamaan dengan serangan trips dan kutu daun.
Tanaman inang lain
Hama ini bersifat polifag, diketahui di Indonesia terdapat lebih dari 57 jenis tanaman inang antara lain tomat, karet, teh, kacang panjang, tembakau, jeruk dan tanaman hias.