Selamat Datang di website Balai Penyuluhan Pertanian Kapanewon Nanggulan Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta.....................

Selasa, 26 Oktober 2010

Gerakan massal gropyokan tikus

 
Pemerintah Desa Kembang mengadakan gerakan massal pengendalian tikus dengan cara gropyokan. Gerakan ini telah diprogramkan rutin setiap tahun dengan anggaran sekitar Rp. 2 juta setiap tahunnya. Hal ini bertujuan untuk mengendalikan populasi hama tikus yang menyerang tanaman pangan khususnya wilayah desa kembang seperti tanaman padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu. 
Hadir dalam gerakan massal ini Kepala Dinas Tanaman Pertanian dan Kehutanan kabupaten Kulon Progo Ir. Bambang Tri Budi Harsono beserta jajarannya, Koordinator Penyuluh BPP Nanggulan Hartono, A. Md beserta jajarannya, serta segenap warga pedukuhan Pronosutan, Wiyu, dan Pundak yang antusias melakukan gropyokan ini.
Gropyokan dilakukan bertahap, hari pertama Minggu 24 Oktober 2010, kemudian Selasa 26 Oktober 2010, dan rencananya hari Sabtu 30 Oktober 2010.
Pada hari pertama telah berhasil membasmi hama tikus sejumlah 250 ekor yang dihadiri sekitar 67 warga.








Minggu, 17 Oktober 2010

Teknologi Kehutanan

A. Teknologi Budidaya :
B. Teknologi Pengolahan :

Jumat, 15 Oktober 2010

UMB dan UMMB


Penggunaan urea mineral molasses block (UMMB) dan dodol sebagai pengganti konsentrat pada sapi

            Pakan sapi berkualitas baik, apabila diberikan pakan pokok hijauan berupa rumput segar dan konsentrat yang lengkap kandungan asam aminonya sebagai bahan tambahan. Untuk mendapatkan konsentrat dengan kandungan asam amino yang lengkap diperlukan biaya yang cukup mahal, karena konsentrat yang lengkap kandungan asam amino terbuat dari campuran beberapa bahan pakan tambahan, contoh konsentrat lengkap apabila tersusun dari katul, jagung, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tetes, garam dan mineral campuran (premix) dengan persentase tepat. Di negara maju pemberian pakan pada sapi dengan kualitas baik tidak menjadi masalah. Sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia pemberian pakan berkualitas baik mengalami kesulitan karena memerlukan biaya yang besar.
            Merupakan suatu keuntungan bagi peternak sapi bahwa pakan dengan kualitas yang cukup sudah dapat meningkatkan produksi daging. Untuk mendapatkan pakan berkualitas cukup, berarti pakan sapi tidak harus mengandung keseluruhan asam amino seperti pakan pada ternak unggas. Pakan yang berkualitas cukup tidak menyebabkan sapi kekurangan asam amino karena semua asam amino yang dibutuhkan oleh sapi dapat dibentuk di dalam rumen asalkan bahan untuk menyusun asam amino di dalam rumen adalah urea, selain itu juga karbohidrat dan mineral yang ada dalam konsentrat.
            Kebutuhan urea, karbohidrat dan mineral untuk membentuk asam amino dalam rumen dapat diupayakan dalam satu bentuk yang di sebut Urea Mineral Molasses Block (UMMB).
            Kegunaan UMMB selain membentuk asam amino yang dibutuhkan oleh sapi juga untuk membantu meningkatkan pencernaan pakan yang sulit dicerna dengan cara menstabilkan kondisi keasaman (pH) di dalam rumen. Untuk mendapatkan kondisi pH ddi dalam rumen yang stabil maka UMMB diberikan secara jilatan, agar sapi dapat mengatur sendiri kebutuhannya.

UREA MINERAL MOLASSES BLOCK JILATAN
            Urea Mineral Molasses Block (UMMB) jilatan sebagai bahan pakan dengan nama dan cara yang berbeda-beda. Ada yang menyebut UMMB atau UMB dan Dodol. Persamaan dari UMMB dan dodol adalah bertujuan untuk meningkatkan daya cerna pakan berserat kasar tinggi dan membentuk asam amino di dalam rumen.

Perbedaan UMMB dan Dodol :
1. Konsistensi dodol agak lunak sedangkan UMMB keras.
2. Dodol dapat digigit oleh sapi sedangkan UMMB dijilat.
3. Cara pembuatan dodol dengan pemanasan sedangkan UMMB tanpa pemanasan.
4. Dodol tidak mengandung bahan perekat sedangkan UMMB ada bahan perekatnya.


Bahan yang digunakan untuk UMMB maupun dodol selalu mengandung :
1. Urea
2. Molasses
3. Mineral
4. Bahan konsentrat sumber karbohidrat contohnya dedak, katul, jagung, empok dll.

U R E A
            Urea merupakan sumber Non Protein Nitrogen (NPN) karena urea mengandung nitrogen sebesar 45%, yang sama dengan protein kasar sebesar 281%. Di dalam rumen NPN merupakan salah satu bahan pembentuk asam amino, kemudian dengan bantuan mikroba rumen beberapa asam amino bergabung untuk membentu protein. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembentukan protein dapat berasal dari NPN dengan bantuan kerja mikroba rumen. Jumlah urea yang diberikan pada sapi tidak boleh berlebihan. Takaran pemberian 100 mg/Kg Berat Badan sapi atau 10 gram/100 Kg Berat Badan sapi atau maksimal 115 gram/ekor sapi. Apabila diberikan lebih dari takaran akan mengakibatkan keracunan.        
Gejala-gejala yang terlihat apabila terjadi keracunan urea :
1. Sapi tampak gelisah
2. Meneteskan air liur (ngiler)
3. Perut gembung
4. Menyepak-nyepakan kakinya ke perut
5. Jalan sempoyongan
6. Sesak nafas
7. Mati apabila tidak cepat tertolong.

TETES ATAU MOLASSES
            Tetes adalah sisa sirup terakhir dari nira yang mengalami pengolahan di pabrik gula dan telah dipisahkan dari gulanya melalui kristalisasi berulang-ulang sehingga tidak mungkin lagi menghasilkan gula lagi. Dengan kata lain tetes adalah limbah yang tak digunakan dari pabrik gula. Hasil tetes separuhnya digunakan sebagai pakan ternak secara langsung maupun melalui hasil fermentasi yang menggunakan tetes sebagi bahan bakunya.
            Tetes merupakan bahan yang kaya akan karbohidrat yang mudah larut (48-68)%, kandungan mineral yang cukup dan disukai ternak karena baunya manis. Selain itu tetes juga mengandung vitamin B komplek yang sangat berguna untuk sapi yang masih pedet. Tetes mengandung mineral kalium yang sangat tinggi sehingga pemakaiannya pada sapi harus dibatasi maksimal 1,5-2 Kg/ekor/hari. Penggunaan tetes sebagai pakan ternak sebagai sumber energi dan meningkatkan nafsu makan, selain itu juga untuk meningkatkan kualitas bahan pakan dengan peningkatan daya cernanya. Apabila takaran melebihi batas atau sapi belum terbiasa maka menyebabkan kotoran menjadi lembek dan tidak pernah dilaporkan terjadi kematian karena keracunan tetes.
MINERAL
            Mineral sangat dibutuhkan sapi untuk membantu metabolisme dalam tubuh. Apabila sapi kekurangan mineral maka pakan yang dimakan tidak dapat digunakan secara sempurna, karena mineral juga ikut dalam pembentukan enzim dan hormon tubuh. Fungsi hormon dan enzim untuk metabolisme di dalam tubuh. Oleh karena itu pada setiap pemberian pakan selalu paling sedikit harus ditambah garam. Penyakit yang disebabkan kekurangan mineral disebut defisiensi.

BAHAN KONSENTRAT SUMBER KARBOHIDRAT
            Konsentrat sebagai sumber karbohidrat perlu ditambahkan pada pembuatan UMMB atau dodol, untuk menambah kandungan energi yang dibutuhkan oleh mikroba rumen saat mencerna pakan dengan serat kasar tinggi. Selain itu juga mencegah pemakaian tetes yang berlebihan.


TEKNOLOGI PEMBUATAN UMMB DAN DODOL UREA

I. Teknik Pembuatan UMMB
a.  Teknik pembuatan dengan cara dingin telah dikenalkan oleh tim konsultan FAO pada pilot proyek pengembangan ternak kerbau di Brebes (TCP/INS/2357A) pada kelompok peternak kerbau ”Bina Sari” desa Pulosari. Dengan teknik ini diperoleh UMMB yang padat dan keras sehingga pemakaiannya dijilat. Pemberian UMMB secara kontinyu melalui jilatan dapat memelihara kondisi rumen sapi untuk meningkatkan pencernaan pakan berserat tinggi seperti jerami padi.

b.  Formula Bahan
            Bahan yang digunakan untuk menyusun UMMB setiap Kg atau 100 Kg  adalah sebagai berikut :
1. Dedak                     : 400 gram atau  40 kg (40%)
2. Tetes                        : 400 gram atau  40 kg (40%)
3. Urea                        : 80 gram atau  8 kg (8%)
4. Mineral Mix            : 10 gram atau  1 kg (1%)
5. Garam                     : 30 gram atau  3 kg (3%)
6. Semen/kapur           : 80 gram atau  8 kg (8%)
    Penambahan semen/kapur digunakan sebagai bahan mineral perekat untuk menjaga block tetap stabil. Selain itu juga untuk menambah mineral kalsium pakan.

c. Peralatan yang digunakan : Timbangan, ember, sekop, mesin pengaduk (jika ada), cetakan.
d.  Prosedur Pembuatan UMMB Teknik Dingin
1. Semua bahan ditimbang dan masing-masing dimasukkan plastik
2. Tetes dan urea diaduk selama 5 menit
3. Kemudian masukkan semen dan diaduk selama 10 menit
4. Selanjutnya masukkan garam halus dan mineral, aduk selama 3 menit
5. Terakhir tambahkan dedak dan diaduk selama 10 menit. Setelah semua bahan tercampur rata dilakukan pencetakan.

Alat cetak ada 2 macam :
1.  Moulder yang terdiri dari beberapa lubang cetakan.
2.  Alat pencetak batako yang berukuran panjang 18 cm, lebar 15 cm dan tinggi 15 cm.
Setelah pencetakan selesai hasil cetakan di angin-anginkan selama 3 minggu dengan berat satu blocl 3,2 kg. UMMB ini dapat diberikan pada sapi selama 10 hari atau 320 gr/ekor/hari.

Teknik Pembuatan UMMB dengan cara panas, pada prinsipnya sama dengan cara dingin, hanya pada cara panas bahan-bahan yang dilarutkan dala molasses dipercepat dengan bantuan panas api.

II. Teknik Pembuatan Dodol UMB
a. Teknik Pembuatan dengan menggunakan pemanas dengan tujuan untuk mempercepat melarutkan urea, mineral dan kapur dalam tetes. Teknik pembuatan dengan cara panas ini digunakan dalam jumlah kecil.
b.  Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan 1 Kg (100gram) :
1. Dedak               : 300 gram (30%)
2. Tetes                  : 400 gram (40%)
3.Beras Jagung      : 100 gram (10%)
3. Urea                  : 80 gram (8%)
4. Mineral Mix      : 50 gram (5%)
5. Garam               : 30 gram (3%)
6. Kapur mati        : 40 gram (4%)

c. Alat-alat yang digunakan :
1. Kompor                2. Wajan         3. Pengaduk

d. Prosedur pembuatan :
1. Tetes dipanaskan sampai mendidih dengan api kecil
2. Masukkan urea dan aduk hingga larut
3. Masukkan mineral dan kapur yang telah dilarutkan dengan 100 air aduk hingga rata.
4. Setelah mendidih, api dimatikan dan masukkan katul sedikit demi sedikit, campur sampai rata.
5. Cetak dodol menurut selera, tiap dodol beratnya 125 gram jadi tiap kg jadi 8 dodol.
6. Setelah pencetakan kemudian didinginkan atau dijemur selama 1 minggu
e. Takaran dan aturan penggunaan dodol
1. Seekor berproduksi diberi 250 gram atau 2 sendok dodol, dengan pemberian   2 kali pagi dan sore sebelum diberi rumput.
2. Sebaiknya sapi yang diberi dodol harus sehat, tidak menderita cacing hati dan tidak bunting.
(Dari berbagai sumber...)


SELAMAT MENCOBA
SEMOGA SUKSES


Minggu, 10 Oktober 2010

Bagan Warna Daun (BWD)

Bagan Warna Daun (BWD) adalah alat sederhana yang terdiri dari serangkaian warna yang menunjukkan tingkat kecukupan unsur hara N  (Nitrogen) dalam daun. Macam BWD ada yang terdiri dari 6 gradasi warna dan 4 gradasi warna. Pada gambar tersebut (versi print) warna BWD bergradasi dari warna hijau muda kekuningan, hijau agak muda, hijau agak tua, sampai hijau tua. Untuk aplikasi tanaman padi, ketersediaan unsur N ideal pada angka no 4, angka no 2 dan no 3 menunjukkan ketersediaan unsur N masih kurang, sedangkan pada angka no 5 menunjukkan kelebihan Nitrogen.

Donwload artikel lengkap...

Jumat, 08 Oktober 2010

Sosialisasi BLBU, BLP, penandatanganan kontrak SL PTT Padi 2010, serta revitalisasi KUD Sarimulyo

Tim BPP Nanggulan beserta Tim 9 KUD Sarimulyo melakukan sosialisasi BLBU, SL PTT, penandatanganan perjanjian kontrak SL PTT, serta revitalisasi KUD Sarimulyo. Koordinator BPP, Hartono, A. Md menyampaikan bahwa dalam rangka peningkatan produksi beras nasional, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah meluncurkan program Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU), Bantuan Langsung Pupuk (BLP), serta pendampingan SL PTT Padi 2010. Pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama dilaksanakan  untuk desa Kembang dan Jatisarono bertempat di balai desa Kembang pada hari Kamis 30 September 2010. Tahap kedua untuk desa Wijimulyo dan Tanjungharjo bertempat di balai desa Wijimulyo pada hari Senin 04 Oktober 2010, dan tahap ketiga untuk desa Donomulyo dan Banyuroto bertempat di balai desa Donomulyo pada hari Selasa 05 Oktober 2010. Diharapkan dengan berbagai program ini, terjadi peningkatan produksi padi minimal 5 % tiap tahun. 

Jumat, 01 Oktober 2010

Pembukaan Aliran Irigasi Kalibawang

Mulai 1 Oktober 2010 aliran irigasi DI Kalibawang sudah dialirkan setelah sebelumnya dilakukan perbaikan rehab berat yang berjalan selama 2,5 bulan. Rencana pengaliran air yang semula dijadwalkan tanggal 1 November 2010 diajukan menjadi 1 Oktober 2010 setelah terjadi kesepakatan antara Dinas PU dengan Dinas Pertanian dan Kehutanan, serta Gabungan P3A. Dengan adanya aliran air ini diharapkan petani di wilayah Kulon Progo, khususnya kecamatan Nanggulan segera melakukan pengolahan tanah serentak sehingga dijadwalkan akhir Oktober 2010 semua petani sudah menanam padi.