Selamat Datang di website Balai Penyuluhan Pertanian Kapanewon Nanggulan Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta.....................

Senin, 26 September 2016

TIM MONITORING DAN EVALUASI KEGIATAN DARI IRJENTAN KEMENTRIAN PERTANIAN RI di BP3K NANGGULAN

Pada tanggal 20 September 2016  BP3K Nanggulan berkesempatan di datangi dari tim MONEV IRJENTAN Kemeterian Pertanian RI, tim memonitoring dan mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh BKPP DIY kemudian dilanjutkan ke Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan Kabupaten Kulon Progo serta dilanjutkan Ke BP3K Nanggulan. Dalam kesempatan tersebut dilakukan diskusi tentang pelaksanaan kegiatan dan hambatan yang terjadi dalam pelaksanaannya.

Jumat, 26 Agustus 2016

Jumat, 29 Juli 2016

Antraknosa

Antraknosa : Colletotrichum gloeosporioides
Morfologi dan daur penyakit
  • Konidia dapat membentuk apresoria yang dirangsang oleh keadaan suhu, kelembaban dan nutrisi yang cocok. Pada saat perkecambahan apresoria akan cepat dan mudah menginfeksi inangnya. Penyakit kurang terdapat pada musim kemarau, atau dilahan yang mempunyai drainase baik, dan yang gulmanya terkendali.
  • Penyakit ini tersebar luas di daerah pertanaman bawang di Indonesia.
Gejala serangan
  • Pada  gejala  awal,  daun  memperlihatkan  bercak  putih  berukuran  antara 1 - 2 mm. Bercak putih melebar dan berubah warna menjadi kehijauan. Tanaman mati dengan mendadak, daun bawah rebah karena pangkal daun mengecil. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit otomatis, karena tanaman yang terserang pasti akan mati.  Spora nampak bila infeksi telah lanjut, dengan koloni berwarna merah muda, yang berubah menjadi coklat gelap dan akhirnya kehitam-hitaman.
  • Apabila kelembaban udara tinggi terutama dimusim hujan, miselium akan tumbuh dari helai daun menembus sampai ke umbi menyebar ke permukaan tanah. Miselium yang ada di permukaan tanah berwarna putih dan dapat menyebar ke tanaman lain yang berdekatan. Daun menjadi kering, umbi membusuk.  Infeksi sporadis menyebabkan pertanaman tampak botak di beberapa tempat.
Tanaman inang lain
  • Tanaman sayuran kacang-kacangan, labu-labuan dan terung-­terungan.
Cara pengendalian
  • Pengendalian secara bercocok tanam, dengan mengatur waktu tanam yang tepat, penggunaan benih yang berasal dari tanaman sehat.
  • Pengendalian fisik/mekanik, dengan cara sanitasi dan pembakaran sisa-sisa tanamana sakit, eradikasi selektif terhadap tanaman terserang jika hasil pengamatan serangan ringan < 10 %..
  • Pengendalian kimia, dilakukan jika hasil pengamatan intensitas serangan  > 10 %.  Fungisida yang digunakan yang telah diizinkan oleh Menteri Pertanian.

Embun Buluk

Embun Buluk (Downy mildew) ; Peronospora destructor (Berk) Casp.
Nama umum : Peronospora destructor (Berk.)
Casp. ex Berk.
Klasifikasi : Kingdom : Chromista
Filum : Oomycota
Ordo : Peronosporales
Famili : Peronosporaceae
Sumber gambar : CABI
Morfologi dan daur penyakit
Patogen dapat bertahan pada biji, umbi dan di dalam tanah dari musim ke musim. Pada cuaca lembab dan sejuk, patogen dapat berkembang dengan baik. Penyebaran spora melalui angin. Penyakit ini berkembang terutama pada musim hujan, bila udara sangat lembab dan suhu malam hari rendah.
Kelembaban tinggi sejuk sangat menguntungkan perkembangan patogen. Kesehatan ­benih/umbi yang ditanam, akan mempengaruhi serangan patogen di lapang.
Penyakit banyak dijumpai di Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta (Indonesia), Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Gejala serangan
Di dekat ujung daun terdapat bercak hijau pucat dan bila cuaca lembab pada bercak tersebut terdapat miselium dan spora yang berwarna ungu kecoklatan.  Tanaman muda yang terserang bila tetap hidup akan menjadi kerdil.  Bercak pada daun biasa menyebar ke bagian bawah hingga mencapai umbi, merambat ke lapisan-lapisan umbi yang lain, berwarna kecoklatan, berkerut pada lapisan telur, bagian dalam umbi tampak kering dan pucat.  Serangan berat menyebabkan umbi membusuk, daun menguning, layu dan mengering, diliputi oleh miselium berwarna hitam.

Tungau Kuning

Tungau Kuning : Polyphagotarsonemus latus Banks.
Famili : Tarsonematidae
Ordo   : Acarina
Morfologi/Bioekologi

Imago bertungkai 8 sedangkan nimfa bertungkai 6, berukuran tubuh sekitar 0,25 mm, lunak, transparan dan berwarna hijau kekuningan. Telur berbintik-bintik putih, berwarna kuning muda berdiameter 0,1 mm. Berkembang biak secara berkopulasi biasa dan partenogenesis. Tungau betina mampu meletakkan telur sebanyak 40 butir selama 15 hari. Sejak menetas dari telur hingga dewasa dan siap berkembang biak sekitar 15 hari. Hama ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis sedangkan di Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini adalah Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.
Gejala serangan
Hama menghisap cairan tanaman dan menyebabkan kerusakan sehingga terjadi perubahan bentuk menjadi abnormal dan perubahan warna seperti daun menebal dan berubah warna menjadi tembaga/kecoklatan, terpuntir, menyusut serta keriting, tunas dan bunga gugur.  Pada awal musim kemarau biasanya serangan bersamaan dengan serangan trips dan kutu daun.
Tanaman inang lain
Hama ini bersifat polifag, diketahui di Indonesia terdapat lebih dari 57 jenis tanaman inang antara lain tomat, karet, teh, kacang panjang, tembakau, jeruk dan tanaman hias.

Trips parvispinus

Trips parvispinus Karny.
Famili     : Thripidae
Ordo       : Thysanoptera

Morfologi/Bioekologi
  • Imago berukuran sangat kecil sekitar 1 mm, berwarna kuning sampai coklat kehitam-hitaman. Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak-bercak merah atau bergaris-garis. Imago betina mempunyai 2 pasang sayap yang halus dan berumbai/jumbai seperti sisir bersisi dua. Pada musim kemarau populasi lebih tinggi dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari.
  • Telur berbentuk oval/seperti ginjal rata­-rata 80 butir per induk, diletakkan di permukaan bawah daun atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar, akan menetas setelah 3 - 8 hari.
  • Nimfa berwarna pucat, keputihan/kekuningan, instar 1 dan 2 aktif dan tidak bersayap. Nimfa yang tidak aktif berada di permukaan tanah. Pupa terbungkus kokon, terdapat di permukaan bawah daun dan di permukaan tanah sekitar tanaman. Perkembangan pupa menjadi trips muda meningkat pada kelembaban relatif rendah dan suhu relatif tinggi. Daur hidup sekitar 20 hari, di dataran rendah 7 - 12 hari.  Hidup berkelompok.
  • Hama ini bersifat kosmopolit tersebar luas di Indonesia dan Thailand. Di Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jawa Timur
Gejala serangan
  • Dampak langsung serangan : pada permukaan bawah daun berwarna keperak­-perakan, daun mengeriting atau keriput. Secara tidak langsung: trips merupakan vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting. Hama menyerang dengan menghisap cairan permukaan bawah daun dan atau bunga ditandai oleh bercak-­bercak putih/keperak-perakan. Daun akan berubah warna menjadi coklat, mengeriting/keriput dan mati. Pada serangan berat, daun, pucuk serta tunas menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor dan pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil bahkan pucuk mati.
Tanaman inang lain
  • Hama ini bersifat polifag dengan tanaman inang utama selain cabai yaitu bawang merah, bawang daun dan jenis bawang lainnya dan tomat. Tanaman inang lain yaitu tembakau, kopi, ubi jalar, waluh, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili crusiferae, crotalaria dan kacang-kacangan tetapi tidak dijumpai pada gulma.
Pengendalian
a.   Kultur teknis
  • Penggunaan mulsa plastik yang dikombinasikan dengan tanaman perangkap caisin dapat menunda serangan yang biasanya terjadi pada umur 14 hari setelah tanam menjadi 41 hari setelah tanam.
  • Membakar sisa jerami/mulsa yang dipakai selama pertanaman.
  • Sanitasi dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang.
b.   Fisik mekanis
  • Penggunaan perangkap likat warna biru, putih atau kuning sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang ditengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu (Gambar 13).  Setiap minggu perangkap diolesi dengan oli atau perekat.  Perangkap kilat dipasang dengan ketinggian ± 50 cm (sedikit di atas tajuk tanaman).
c.   Hayati
  • Pemanfaatan musuh alami predator kumbang Coccinellidae Coccinella repanda, Amblysius cucumeris (Gambar 14), Orius minutes, Arachnidea dan patogen Entomophthora sp.
d.   Kimiawi
  • Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat digunakan insektisida yang efektif (pada prinsipnya agar mengikuti ketentuan seperti yang diuraikan pada halaman 32  butir d), terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian (lihat Lampiran 1) apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, serangan mencapai lebih atau sama dengan 15 % per tanaman contoh.

Ulat Grayak

Ulat Grayak    : Spodopthera litura F.Famili                  : NoctuidaeOrdo                  : LepidopteraGambar : a. Warna ulat bervariasi tergantung jenis makanannya. b. Mempunyai kalung hitam pada lehernya, Aktif pada senja hari
Gejala serangan   : daun berlubang
Morfologi/Bioekologi
Sayap ngengat bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputih-putihan dengan bercak hitam. Malam hari ngengat dapat terbang sejauh 5 kilometer.  Seekor ngengat betina dapat meletakkan 2000 - 3000 telur.
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang-kadang tersusun 2 lapis), berwarna coklat kekuning-kuningan diletakkan berkelompok (masing-masing berisi 25 - 500 butir) yang bentuknya bermacam-macam pada daun atau bagian tanaman lainnya. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari bulu-bulu tubuh bagian ujung ngengat betina.
Larva mempunyai warna yang bervariasi, mempunyai kalung/bulan sabit berwarna hitam pada segmen abdomen yang keempat dan kesepuluh. Pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklat-coklatan dan hidup berkelompok. Beberapa hari kemudian tergantung ketersediaan makanan, ­larva menyebar dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya. Siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab) dan menyerang tanaman pada malam hari. Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah perbedaan hanya pada tanda bulan sabit, berwarna hijau gelap dengan garis punggung warna gelap memanjang. Umur 2 minggu panjang ulat sekitar 5 cm.
Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 - 60 hari (lama stadium telur 2 - 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 - 46 hari, pupa 8 - 11 hari).
Hama ini tersebar di Asia, Pasifik dan Australia sedangkan di Indonesia propinsi yang melaporkan adanya serangan hama ini adalah DI Aceh, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya.
Gejala serangan
Larva yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas/transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Larva instar lanjut merusak tulang daun dan kadang-kadang menyerang buah. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun menyerang secara serentak berkelompok, serangan berat dapat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan berat umumnya terjadi pada musim kemarau.
Tanaman inang lain
Hama ini bersifat polifag, selain cabai tanaman inang lainnya yaitu kubis, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, jeruk, tembakau, bawang merah, terung, kentang, kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah), kangkung, bayam, pisang, tanaman hias juga gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Clibadium sp. dan Trema sp.